Apakah habit tracker efektif?
Ya, dengan satu catatan. Habit tracker tidak membangun kebiasaan untukmu, tetapi membuat salah satu teknik perubahan perilaku yang paling banyak diteliti, yaitu pemantauan diri (self-monitoring), mudah dilakukan setiap hari. Saat kamu bisa melihat apa yang benar-benar kamu lakukan (bukan yang kamu kira sudah dilakukan), jauh lebih sulit untuk melenceng tanpa sadar.
Bukti terkuat datang dari meta-analisis tahun 2016 di jurnal Psychological Bulletin. Para peneliti menggabungkan 138 studi (N = 19.951) yang secara acak menempatkan orang ke intervensi yang mendorong mereka memantau progres tujuannya atau ke kelompok kontrol.1 Rata-rata, intervensi tersebut meningkatkan seberapa sering orang memantau progresnya (d+ = 1,98) dan meningkatkan pencapaian tujuan (d+ = 0,40).1 Semakin sering orang memantau, semakin baik hasilnya: perubahan frekuensi pemantauan memediasi efek terhadap pencapaian tujuan.1
Ada dua detail penting bagi siapa pun yang memilih tracker. Pemantauan berefek lebih besar ketika informasinya dicatat secara fisik, dan ketika hasilnya dilaporkan atau dibagikan secara publik.1 Dengan kata lain, mencatat lebih baik daripada sekadar menghitung di kepala.
Apa lagi kata riset
Riset penurunan berat badan sampai pada kesimpulan serupa. Sebuah tinjauan sistematis terhadap 22 studi yang terbit antara 1993 dan 2009 menemukan hubungan yang signifikan antara pemantauan diri (pola makan, olahraga, atau berat badan) dan penurunan berat badan, secara konsisten di seluruh studi.2 Para penulis dengan hati-hati mencatat bahwa tingkat buktinya lemah karena keterbatasan metodologis, seperti ketergantungan pada laporan diri dan sampel yang sebagian besar perempuan kulit putih.2 Menariknya, buku harian kertas adalah metode yang paling sering digunakan.2
Pencatatan juga lebih efektif jika bukan satu-satunya hal yang kamu lakukan. Sebuah meta-regresi terhadap 122 evaluasi (N = 44.747) intervensi pola makan sehat dan aktivitas fisik menemukan bahwa pemantauan diri menjelaskan perbedaan antarstudi lebih banyak daripada teknik lain mana pun.3 Intervensi yang memadukan pemantauan diri dengan setidaknya satu teknik lain dari teori kontrol, seperti menetapkan tujuan atau meninjaunya, secara signifikan lebih efektif daripada yang lain (ukuran efek 0,42 vs 0,26).3
Cara menggunakan habit tracker dengan baik
Tracker hanya sebaik kebiasaan yang kamu masukkan ke dalamnya. Prinsip-prinsip ini mengikuti riset di atas dan apa yang biasanya salah dalam praktik.
- Mulai dengan sedikit kebiasaan. Dua atau tiga sudah cukup. Setiap baris tambahan berarti satu hal lagi untuk dicek, dan daftar yang penuh membuatmu mudah berhenti melihatnya sama sekali.
- Buat setiap kebiasaan spesifik. “Lebih banyak olahraga” sulit dicentang dengan jujur. “Jalan kaki 20 menit setelah makan siang” jelas ya atau tidak. Kaitkan dengan satu momen dalam harimu; dalam studi pembentukan kebiasaan di bawah, peserta memilih perilaku yang dilakukan dalam konteks yang sama, seperti “setelah sarapan”.4
- Buat tetap terlihat. Pemantauan hanya membantu jika benar-benar dilakukan. Letakkan tracker di tempat yang akan kamu lihat: di kulkas, di meja, atau di layar utama HP-mu.
- Catat saat itu juga. Centang kebiasaan begitu selesai, bukan dari ingatan di akhir pekan.
- Tinjau seminggu sekali. Lihat polanya, bukan hanya hari ini. Hari apa yang bolong? Apakah kebiasaannya terlalu besar? Sesuaikan tujuannya; itulah bagian “memadukan pemantauan dengan teknik lain” yang membuat intervensi lebih efektif.3
Kesalahan umum (dan apa yang sebaiknya dilakukan)
Melacak terlalu banyak kebiasaan sekaligus
Semangat di hari pertama sering berarti sepuluh kebiasaan. Di minggu kedua, tracker berubah jadi dinding penuh kotak kosong, dan kotak kosong terasa seperti kegagalan. Mulailah kecil dan tambahkan kebiasaan baru hanya saat yang sekarang sudah terasa mudah.
Pola pikir streak “semua atau tidak sama sekali”
Streak memotivasi sampai streak itu putus. Lalu banyak orang berpikir “sudah rusak semua” dan berhenti. Riset di sini menenangkan: dalam studi terhadap 96 relawan yang mengulang perilaku harian selama 12 minggu, melewatkan satu kesempatan untuk melakukan perilaku itu tidak berpengaruh berarti pada proses pembentukan kebiasaan.4 Satu hari bolong hanyalah gangguan kecil, bukan reset.
Mengharapkan kebiasaan terbentuk dalam jumlah hari tertentu
Dalam studi yang sama, waktu yang dibutuhkan peserta untuk mencapai 95% dari titik datar otomatisitas mereka berkisar dari 18 hingga 254 hari.4 Tidak ada angka ajaib. Terus catat sampai kebiasaan terasa otomatis, lalu putuskan apakah kamu masih perlu mencatatnya.
Mencatat tanpa pernah melihat
Mencentang kotak yang tidak pernah kamu tinjau membuat tracker jadi beban. Lima menit melihat ulang setiap minggu adalah saat pencatatan berubah menjadi penyesuaian.
Habit tracker kertas vs aplikasi
Keduanya bisa berhasil. Yang paling penting adalah kamu mencatat progres secara fisik dan terus melakukannya.1 Pilih format yang benar-benar akan kamu buka setiap hari.
| Kertas (bullet journal, printable) | Aplikasi | |
|---|---|---|
| Paling cocok untuk | Orang yang suka menulis dan sudah memakai buku catatan | Orang yang selalu membawa HP |
| Pengingat | Tidak ada, kamu harus ingat sendiri untuk melihatnya | Notifikasi di jam yang kamu pilih |
| Tinjauan | Mudah melihat sebulan sekilas | Streak dan statistik otomatis |
| Fleksibilitas | Bisa diatur sepenuhnya, tetapi harus digambar ulang tiap bulan | Jadwal seperti “3 kali seminggu” diatur otomatis |
| Kekurangan | Mudah tertinggal di rumah | Gangguan dari HP; beberapa aplikasi butuh akun |
Jika memilih aplikasi, cari yang punya check-in sekali ketuk, widget layar utama agar pencatatan tetap terlihat, dan streak yang memaafkan hari buruk alih-alih menghukumnya.
Siapkan habit tracker-mu hari ini
Kamu bisa melakukannya dalam sepuluh menit:
- Pilih satu sampai tiga kebiasaan yang penting bagimu saat ini.
- Tulis ulang masing-masing agar spesifik dan terkait dengan satu momen: “Setelah menyeduh kopi pagi, aku membaca 5 halaman.”
- Pilih tracker-mu: selembar kertas di kulkas atau aplikasi dengan widget.
- Masukkan jadwal tinjauan mingguan ke kalender, misalnya Minggu malam.
- Tentukan dari awal apa yang akan kamu lakukan setelah hari yang terlewat: cukup mulai lagi keesokan harinya.
Pertanyaan umum
Apakah habit tracker benar-benar efektif?
Riset menunjukkan habit tracker membantu. Meta-analisis terhadap 138 studi acak menemukan bahwa intervensi yang meningkatkan pemantauan progres juga meningkatkan pencapaian tujuan, terutama jika progres dicatat secara fisik.
Berapa banyak kebiasaan yang sebaiknya dilacak sekaligus?
Mulailah dengan dua atau tiga. Tambahkan lagi hanya saat kebiasaan yang sekarang terasa mudah, agar tracker tetap jadi sesuatu yang ingin kamu lihat, bukan daftar kotak kosong.
Apa yang terjadi jika aku melewatkan satu hari?
Hampir tidak ada. Dalam studi terhadap 96 relawan, melewatkan satu kesempatan untuk melakukan perilaku tidak berpengaruh berarti pada pembentukan kebiasaan. Kembali saja ke jalur keesokan harinya.
Lebih baik habit tracker kertas atau aplikasi?
Tidak ada yang jelas lebih unggul. Pilih yang akan kamu lihat dan perbarui setiap hari: kertas cocok untuk pencinta buku catatan, sedangkan aplikasi menambahkan pengingat, widget, dan statistik otomatis.
Sumber
Semua angka dalam artikel ini berasal dari studi di bawah. Ketuk nomor di teks untuk melihat sumbernya.
- Harkin, B., Webb, T. L., Chang, B. P. I., Prestwich, A., Conner, M., Kellar, I., Benn, Y., & Sheeran, P. (2016). Does monitoring goal progress promote goal attainment? A meta-analysis of the experimental evidence. Psychological Bulletin, 142(2), 198–229. doi.org/10.1037/bul0000025
- Burke, L. E., Wang, J., & Sevick, M. A. (2011). Self-monitoring in weight loss: A systematic review of the literature. Journal of the American Dietetic Association, 111(1), 92–102. doi.org/10.1016/j.jada.2010.10.008
- Michie, S., Abraham, C., Whittington, C., McAteer, J., & Gupta, S. (2009). Effective techniques in healthy eating and physical activity interventions: A meta-regression. Health Psychology, 28(6), 690–701. doi.org/10.1037/a0016136
- Lally, P., van Jaarsveld, C. H. M., Potts, H. W. W., & Wardle, J. (2010). How are habits formed: Modelling habit formation in the real world. European Journal of Social Psychology, 40(6), 998–1009. doi.org/10.1002/ejsp.674
Artikel ini bersifat informasi umum dan bukan nasihat medis.
Mulai mencatat, dengan santai
Dotday adalah habit tracker gratis untuk Android dengan check-in sekali ketuk, widget layar utama, dan streak yang pemaaf, tanpa akun dan tanpa iklan.